Kurikulum di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) - Dear Life, Affection, Hate and all ever happen...

Thursday, October 4, 2012

Kurikulum di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

Luas memang kalau membahas kurikulum di SMK.

Tentang kurikulum sendiri, apa sih kurikulum itu?
Saya gak pakai searching di google, berdasar apa yang saya pahami saja, kurikulum tuh semacam paket atau program pendidikan yang harus diselesaikan oleh peserta didik selama kurun waktu yang ditentukan.

Saya sendiri, dulu bersekolah di SMA Negeri. Kurikulumnya selama kelas 1 dan 2 secara umum, mendapat pelajaran yang cukup banyak. Mulai dari Mata Pelajaran Wajib semacam Agama, PKn, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan teman-temannya. Juga mendapat muatan lokal, sejenis Bahasa Jepang dan Komputer. Sedangkan ketika masuk kelas 3 kita sudah dijuruskan ke 3 jurusan yang ada di SMA, sesuai dengan kemampuan dan juga minat kita masing-masing. Ada IPA, IPS, dan Bahasa.

Waktu itu, saya masuk ke IPS. Alasannya sangat simple, saya tidak bisa Fisika dan Kimia. :))
Saya juga punya cita2 (pada waktu itu) masuk ke STAN - Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, yang pada akhirnya setelah 2x mencoba tes masuknya, saya pulang dengan kegagalan. Setelah akhirnya saya sadari detik ini, saya syukuri kegagalan saya tersebut. Inilah jalan saya, bukankah demikian :)

Back to the topic, setelah 3 tahun lebih ini berkecimpung dalam dunia pendidikan. Ketika sedang mengajar, kadang saya mengeluhkan siswa yang kurang begitu bisa dengan cepat menerima pelajaran yang saya berikan. Nah, ditelusuri lebih lanjut, beberapa siswa mengeluhkan terlalu banyak beban pelajaran yang diberikan kepada mereka. Kalau inputannya baik, juga ada fasilitas dan dukungan dari orang tua tentang proses pembelajaran, hal tersebut sebenernya bukan hal yang besar, karena seperti apapun pelajarannya, siswa pasti dapat mengikuti. Well, kapasitas masing-masing siswa dalam menerima pelajaran tentu saja tidak sama. Sedangkan pada intinya, SMK adalah Sekolah Menengah Kejuruan yang mana siswanya dipersiapkan untuk bekerja dengan skills sesuai bidang keahliannya.

Di SMK, beda dengan SMA, ada pelajaran Produktif, di luar Adaptif dan Normatif, yang mana memuat pelajaran Kejuruannya. Kalau kompetensi keahliannya adalah Otomotif, maka pelajaran tentang Otomotif lah yang didapat dengan jumlah pembelajaran terbesar pada praktek di bengkel Otomotif. Demikian juga kalau jurusannya Teknik Informatika, Rekayasa Perangkat Lunak, maka sebagian besar pelajaran ada pada kegiatan membuat program di Laboratorium Komputer.

Jumlah jam pelajaran produktif cukup banyak, dalam seminggu siswa bisa 2 kali masuk bengkel dengan jumlah jam minimal satu kali masuk bengkel ada 6 jam pelajaran. Kondisi dan kualitas bengkel yang baik dan relevan tentu saja mempengaruhi kualitas pembelajaran itu sendiri. Di Sekolah swasta tempat saya mengajar, sudah 20 tahun lebih ada bengkel otomotif yang tidak kalah lengkap dengan negeri. Siswa bisa belajar mengenai mesin mobil dan juga motor di bengkel. Melakukan Tune Up, dan juga perbaikan ringan pada kendaraan.

Kalau boleh kurikulum dirubah, maka akan lebih baik bila pelajaran2 yang ada di SMK lebih difokuskan pada kejuruan dengan tambahan mata pelajaran wajibnya semacam normatif (Agama, PKn, Bhs Indonesia, Olahraga) atau adaptif  yang masih relevan untuk diadakan. Sedangkan untuk mata pelajaran adaptif adalah pelajaran2 yang mendukung pelajaran produktif. Contohnya adalah Bahasa Inggris yang lebih untuk dunia kerja dan juga menunjang pelajaran kejuruannya. Bukankah istilah2 teknologi yang sering digunakan di SMK juga masih mayoritas menggunakan bahasa Inggris?

Pelajaran lain yang mungkin juga boleh dibilang penting adalah science, yang mana semacam IPA, Fisika, Matematika, Kimia. Tetapi dengan standar yang di bawah SMA (sekarang sudah seperti demikian), yang juga harusnya mendukung pembelajaran untuk mata pelajaran produktif.
Di pelajaran produktif kadang ada pengukuran juga kan? :) Matematika masih dirasa penting juga untuk mengasah kemampuan menghitung dan juga logika. Lalu pelajaran kewirausahaan, sebagai wawasan untuk siswa apabila ingin membuka usaha sendiri.

Nah, lalu pelajaran seperti apa yang dieliminasi??
Ada beberapa pelajaran di SMK yang menurut saya pribadi itu kurang penting. Contohnya IPS, Seni Budaya, dan Bahasa Korea (sebagai muatan lokal).  Seharusnya semacam bahasa Korea, Mandarin, dan laen2 itu masuklah saja di Ekstrakurikuler.

Kebijakan kurikulum sekarang, memang masih menjadi pro dan kontra. Karena apa? Kadang masih ada dari mereka yang ingin melanjutkan kuliah, dan mengikuti SNMPTN. Sedangkan pada SNMPTN kalau mereka tidak mendapat pelajaran-pelajaran yang wajib seperti di SMA, maka hanya sedikit dari soal yang bisa mereka jawab. Kalau SNMPTN hanya ada pilihan IPA dan IPC, ya memang siswa SMK perlu intensive lagi untuk bisa lolos Ujian SNMPTN.Siswa SMK diberi pelajaran2 yang banyak hampir seperti SMA dengan harapan dan tujuan mereka juga bisa bersaing di SNMPTN. Akan tetapi, efek sampingnya adalah ketidakfokusan di bidangnya. Dengan beban pelajaran yang cukup banyak, hanya siswa siswi tertentu yang juara yang bisa mengikuti dan memahami semua pelajaran tanpa terkecuali.

Jadi, tidak heran bila masih banyak siswa SMK yang lebih fokus ke bidang keahliannya dibandingkan dengan pelajaran-pelajaran yang lainnya.
Alasannya, mereka sudah berorientasi untuk bekerja, dan menganggap pelajaran itu saja yang penting dan akan dipakai di dunia kerja nantinya. It's all about mindset.
Memang sedikit dilematis, kenapa? Terkadang lulusan SMK lapangan kerjanya masih sangat minim pada bidangnya, kecuali pada jurusan mesin dan alat berat, biasanya larinya ke Pertambangan dan Mesin Traktor untuk pertambangan juga di luar pulau, yang gajinya sangat bagus untuk lulusan SMK. Sedangkan pada perusahaan-perusahaan tertentu dan Kepemerintahan, mayoritas masih menentukan syarat pegawai harus S1 atau minimal D3, padahal keahlian siswa lulusan SMK yang berkualitas juga boleh diadu dengan mereka yang kuliah D3. Apalagi mereka-mereka yang sekedar kuliah hanya demi gelar dan ijazah.

Banyak dari lulusan SMK di Indonesia ini yang masih bekerja di pabrik-pabrik dengan bidang yang melenceng dari sekolahnya. Berprofesi di luar bidang keahliannya. No problem bagi mereka, asalkan menghasilkan uang.

Tentu saja yang berjiwa wirausaha, sungguh lebih baik untuk membuka lapangan pekerjaan dibandingkan bekerja dengan upah minim. Dalam hal ini beberapa jurusan yang bisa digunakan untuk berwirausaha antara lain, Tata Busana, Kecantikan, atau Tata Boga yang mana modal yang dikeluarkan untuk berwirausaha tidak sebesar program keahlian Otomotif. Bagaimana dengan jurusan lain? untuk Rekayasa Perangkat Lunak,

Mereka bisa menjadi programmer handal yang apabila mereka bisa mengembangkan diri selain hanya belajar di sekolah, mereka bisa berhasil menjadi seorang programmer yang dicari oleh banyak perusahaan. Tidak dipungkiri bukan, bahwa seluruh komponen suatu usaha memerlukan IT untuk operasional mereka. Akan tetapi, memang, perlu bangku kuliah lagi bila ingin menjadi lebih profesional dan lebih fokus. Karena di bangku kuliah akan lebih banyak materi-materi untuk analisis dibandingkan dengan di SMK. Dan lagi, di perkuliahan, siswa tidak akan dibebani pelajaran-pelajaran lain yang berat dan sebanyak di SMK. Jadi mereka bisa lebih fokus.

Well.. ada hal yang miris lagi. Seorang ahli di Indonesia, terkadang masih tidak bisa mendapat kelayakan profesi dan ketidakfokusan pada bidangnya. Katakanlah seorang analis sistem. Kalau di luar negeri, seorang analis sistem ya analis saja, masalah programming dikerjakan oleh programmer sedangkan desain ya oleh desainer. Harga untuk sebuah karya disana lebih dihargai daripada di Indonesia. Hal itulah, yang menyebabkan banyak ahli-ahli IT yang lebih suka mengerjakan proyek-proyek dari luar. Dan di Indonesia sendiri, akan jarang sekali kita temui orang yang ahli di analis saja, programmer saja atau desainer saja. Kebanyakan bisa mengerjakan semua, dengan kapasitas yang kurang maximal.

Well, walaupun demikian ada yang expert juga tentunya. Bisa dilihat dari produk-produk digital di Indonesia yang bukan hanya sekedar atas nama proyek. Kapanlagi.com yang menggabungkan banyak hal, semacam programmer, desainer, analyze dan juga penanggung jawab konten.

Tentunya hal ini bisa terbentuk dengan kerjasama dari berbagai pihak.

So.. bagaimana pendapat anda mengenai kurikulum di sekolah anda? :)

ps: ini hanyalah catatan dan opini seorang newbie di dunia pendidikan yang bahkan tidak sekolah pendidikan tetapi teknik murni. :)

13 comments:

  1. Setuju Sekali.. Kalau misalnya setiap orang di indonesia fokus pada satu pekerjaan (misalnya programmer) maka masih ada lapangan pekerjaan untuk designer dan analisator. istilahnya bagi" pekerjaan dengan yang lainnya.

    maaf kalo komennya ribet :))... saya juga bingung ngomongnya gimana :DD
    tapi pada intinya begitu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. yes... he he..
      tetap semangat jadi ahli IT ya ^.^

      Delete
  2. Kalau pengen spesialis, ambil saja jalur IT company. Di sana ada job desc yang jelas akan siapa menjadi analis, programmer, tester dan lain-lain walau dalam keadaan mendesak juga ada kemungkinan bertukar job desc.

    Kalo jadi bagian IT di end user, memang kita dituntut untuk bisa menganalisa sistem dan men-developnya sendirian, bisa mendesain interface ataupun media komunikasi lain, menguasai permasalahan jaringan dan perangkat keras juga. Bahkan kadang juga dipaksa bantuin mikir bisnis yang dijalankan oleh perusahaan tersebut :D

    Tetapi menurut saya pribadi, penguasaan hanya di satu bidang bukan hal yang bagus. Menguasai banyak bidang namun tidak mendalami juga bukan hal yang baik pula. Saya lebih memilih menguasai banyak hal namun ada 1 bidang yang benar-benar didalami. Konsep ini biasanya disebut dengan konsep T *ada yang horizontal namun ada yg vertikal ke dalam*

    ReplyDelete
  3. jalur IT Company ituh apa yah Di?? wikikiki..

    Iya, aq setuju juga kok, kalo bisa semuanya, tapi ahlinya (spesialisnya) di satu bidang juga lebih baik.. *noted*

    ReplyDelete
  4. Setuju... Gak semua SMK Swasta itu jelek... saya jadi saksi hidupnya hahahah...
    thanks teacher

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini Rere ya?

      You're welcome dear.. Success for you.. ;)

      Delete
  5. waini komen e kok bagus tok to mas brooo... :D

    maybe want to give an advice??? buat tulisan2 ane.. :D

    ReplyDelete
  6. Gue pinginnya di SMK diterapkan lagi ilmu biologi ,. Mengapa di SMK hanya di ajarkan yang dasar2 saja ? Gak adil banget apa karna kejuruan? sedangkan saya pecinta IPA semua yg ada di IPA saya harus menguasai !! saya jdi murid SMKN 1 Multimedia ,. Gila apa gak Loh ? Gila ya gila karena seharusnya pemerintah adil dong !!!!!!!

    ReplyDelete
  7. Apalagi cita-cita saya Dokter spesialis bedah !!! Gue pecinta IPA k=mengapa gak di SMA ya karna keluarga gw gk setuju gwe di SMA karena mereka takut gue gak bisa kerja ,. . Gw SMKN 1 Multimedia pingin ikut SNMPTN di fak. kedokteran PTN

    ReplyDelete
  8. Bisa aja kalo mau belajar sendiri..Belajar terus..
    Seharusnya kalo memang cita2 jadi dokter sih harusnya gak ambil multimedia lho..
    Tp g ada yg ga mungkin kan..
    Saya aja SMA IPS, kuliahnya bisa Teknik Informatika. :)

    ReplyDelete
  9. Numpang tanya om kalo masuk smk itu ada pelajaran lain ga kayak misalnya ada bahasa jawa bahasa indo sejarah ada ga? Kalo ga aku masuk smk deh

    ReplyDelete

@nieth_sweet